https://tik.ft.unm.ac.id/bni4d/ https://tik.ft.unm.ac.id/shopify/slot888/

Pimpinan UCY hadiri Pengukuhan Guru Besar Prof. Dr. Haedar Nashir, M.Si

By: Admin | Diposkan pada: 16-12-2019

Pada tanggal 12 Desember 2019 dua Pimpinan Universitas Cokroaminoto Yogyakarta menghadiri dan sekaligus ikut memberikan ucapan selamat kepada Prof. Dr. Haedar Nashir, M.Si. Pada kesempatan tersebut hadir Warek 2, Jamaludin Ahmad, SPsi., Psikolog, MSi dan Warek 3, Farid Iskandar, SH.  Dalam pidatonya Ketua Umum Muhammadiyah tersebut menyampaikan bahwa Radikal dan radikalisme sebagai konsep sebenarnya netral dalam dunia pemikiran dan gerakan. Menjadi keliru manakala memaknai radikal dan radikalisme sebagai identik dengan kekerasan lebih-lebih sama dengan terorisme, sebagaimana sama keliru atau biasa jika dilekatkan pada satu aspek dan kelompok tertentu seperti radikalisme agama atau lebih khusus radikalisme Islam.
Konsep radikal tidaklah linier, bahkan dalam sejumlah definisi tampak ambigu, yang sering bersifat sosiologis tergantung pada orientasi dan relasinya dengan yang lain, termasuk dengan ektsremisme dan terorisme.

Cara pandang serta langkah pencegahan dan penindakan oleh negara terhadap segala bentuk radikalisme haruslah adil, objektif, dan tidak diskriminatif.

Selanjutnya, Pelekatan radikal dan radikalisme pada konotasi Islam dan umat Islam merupakan bias dari cara pandang dan kebijakan negara-negara Barat yang beraura Islamofobia dan diawali oleh trauma politik pasca tragedi 11 September 2001 yang menghentak dunia itu.

Karena itu ditegaskannya begitu penting untuk dikaji dan dirumuskan ulang tentang paham dan gerakan radikal di Indonesia dari satu sudut pandang dan hanya ditujukan pada radikalisme agama ke pandangan yang luas dan untuk semua jenis radikalisme. Hal itu diperlukan agar tidak terjebak pada “radikalisme melawan radikalisme” dan “proyek deradikalisme yang radikal melawan radikalisme”, yang kemudian melahirkan kebijakan dan tindakan radikal atasnama melawan radikalisme.

Selanjutnya, diperlukan Reorientasi atau revisi konsep dan kebijakan “deradikalisme”  agar tidak salah pandang dan salah sasaran dalam melawan radikalisme, yang berujung pada salah kebijakan dan salah tindakan dalam melawan radikalisme di Indonesia.

Menjadi keniscayaab untuk menempuh Jalan moderasi sebagai alternatif dari deradikalisasi untuk menghadapi segala bentuk radikalisme secara moderat.

Sementara itu Warek 1 UCY yang juga peneliti dan peminat kajian kebijakan terorisme mengamini proposal Haedar tentang Moderasi Indonesia sesungguhnya merupakan kontinyuitas dari akar masyarakat di Kepulauan ini yang berwatak moderat dan telah mengambil konsensus nasional dalam bangunan Negara Kesatuan Republik Indonesia yang berdasarkan Pancasila dan ber-Bhineka Tunggal Ika sebagai titik temu dari segala arus keindonesiaan

Khusus bagi umat Islam Indonesia sangat penting terus menembangkan moderasi Islam dalam arti membumikan Islam sebagai ajaran yang moderat untuk menjadi rahmat bagi semesta alam. Kenyataan memang masih dijumpai keberagamaan yang ekstrem atau radikal-ekstrem di tubuh umat Islam, sehingga memerlukan moderasi.

Karenanya moderasi merupakan jalan tengah dan penting bagi dunia Islam. Moderasi menjadi salah satu konsep kunci dalam Islam memberikan solusi ideal dan praktis untuk mengembangkan kepribadian individu serta mekanisme kontrol dalam masyarakat
# Bagi umat Islam Indonesia jauh lebih mudah untuk gerakan moderasi karena watak dan ruang sosiologis dari masyarakat dan umat Islam di Kepulauan ini yang potensial moderat. Islam Indonsia sejatinya berkarakter moderat dan anti segala bentuk radikalisme, ekstremisme, dan terorisme.